Kamis, 01 Agustus 2013

Move On

Terbang bebas melayang di udara. melawan rasa takut, hadapi semua tantangan yang ada dan jadilah laki-laki yang sebenarnya...



Hidup memang selalu penuh dengan permasalahan. karena memang itulah arti dari sebuah kehidupan. masalah, masalah dan terus masalah. ketika kita tak ada masalah, tak ada beban, berarti kita tak hidup. 

Namun, yang jadi permasalahan yaitu bagaimana kita menyikapi permasalahan tersebut. Tak semua orang yang dapat bersikap positif dalam menyikapi permasalahan. Ketika kita tidak mampu mengatasinya, banyak diantara kita yang menjadi tidak produktif. Malas, bad mood, uring - uringan atau bahkan galau dalam istilah tren saat ini.

saya menulis cerita ini bukan berarti saya mampu mengatasinya, acapkali tanggung jawab yang seharusnya bisa saya selesaikan, gara-gara permasalahan yang menghadang membuat saya tidak produktif juga. namun karena keterbiasaan dan merasa harus bangkit belakangan saya telah mampu menyikapi permasalahan tersebut. jadi, dapat dikatakan cerita ini merupakan sebuah cerita untuk membagikan pengalaman bagi siapa saja yang sering dilanda masalah namun menjadi tidak produktif.
satu cara untuk mengembalikan semangat tersebut yaitu menjalankan hobi. Hobi adalah sebuah aktivitas yang dapat membuat seseorang yang meminatinya menjadi senang, gembira, atau pun merasa lepas. Dengan menjalankan hobi tersebut, aura energi yang ada pada tubuh kita akan keluar. sekilas, permasalahan yang dihadapi akan terlupakan sejenak.

Jika ditanya, saya hobi dengan kegiatan kepetualangan yang penuh dengan tantangan. Ketika sedang dihadapkan masalah, cukup bagi saya melakukan hobi tersebut. bersepeda, panjat atau pun berlari dengan sekuat tenaga hingga energi yang ada terkuras semua. hal ini yang akan membuat saya menjadi lelaki kembali.    

langkah selanjutnya yaitu mencoba berbagi cerita dengan orang terdekat kita. tapi ingat, semua kunci dan jawaban dari permasalahan itu sebenarnya ada pada diri kita sendiri. jadi, mau kepada siapapun kita bercerita, mau nasehat apapun yang diberikan akan tetapi jika kita tidak berkomitmen untuk menyelesaikannya hanya akan sia-sia belaka. jadi tujuan dari kita bercerita hanya mengurangi beban dalam diri atau dapat dikatakan mengeluarkan kekesalan atau pun sama dengan tindakan yang pertama tadi yaitu energi negatif dalam tubuh keluar.

dan yang terakhir yaitu pandai mengatur suasana. Ketika kita sedang bersedih, jangan putar lagu-lagu yang melow. Hard core, Rock, atau pun reggae yang dapat membuat kita senang dan gembira. jika perlu pasang music DJ agar kita ON Fire kembali. sedih perlu namun tak perlu berlama-lama. karena dengan kita bersedih, kita akan mengetahui bagaimana nikmatnya tertawa. hahahaha.....

Ketika kita sedang marah, kesal ataupun kecewa. cobalah banyak-banyak bersabar. Hetikan aktifitas sejenak dan cobalah tarik nafas sedalam - dalamnya dan kemudian lepaskan. kemampuan otak yang kita gunakan saat sedang kesal ataupun marah ternyata membutuhkan banyak oksigen agar mampu bekerja secara maksimal. positif thinking, lihatlah, tak ada gunanya kita menyalahkan keadaan. toh kejadian juga sudah terjadi, untuk apa kita marah-marah ataupun memaki keadaan. terkecuali ketika kita marah, keadaan dapat kembali lagi. kalau itu wajiblah hukumnya.

Fikirkan kembali masa depanmu, keinginan besar yang ingin kita gapai. apakah hal tersebut menghambat kita mencapainya. apakah tidak ada cara lain selain cara tersebut. dunia itu tak selebar daun kelor. so, nikmatilah, hadapilah, dan selesaikanlah, karena dengan kita menyelesaikan permasalahan tersebut akan ada kepuasan tersendiri yang bisa kita peroleh di akhir nantinya.
so, Are You Ready for Change?
let's go to REVOLUTION.. 

Senin, 10 Juni 2013

MENGEJAR SUNSET DI PANTAI TIMUR SUMATERA

Bertempur melawan teriknya panas matahari demi mendapatkan deburan ombak dan matahari terbenam di Pantai Timur Sumatera.

Sunset di Pantai Serambi Deli
Sepasang kaki mengayuh pedal sepeda gunung. Perjalanan kali ini terasa begitu berat, bukan karena tanjakan atau kondisi medan yang sulit. Namun karena kaki ini tidak terbiasa lagi untuk mengayuh pedal sepeda.
Sudah hampir berapa bulan sepeda gunungku teronggok di dalam gudang. Kesibukan dengan aktivitas akademik yang memasuki masa akhir dan juga aktivitas olahraga yang didominasi dengan mendaki gunung sehingga sepeda gunungku mulai terpinggirkan.
Rencana bersepeda ini dimulai ketika aktivitas sudah tidak terlalu banyak dan didominasi dengan berleha - leha untuk menenangkan fikiran dari rutinitas yang mulai menjenuhkan. Aku memasuki gudang dan melihat sepeda gunungku mulai diselimuti oleh debu. Sedih melihatnya, aku pun mengeluarkn sepeda tersebut.
Aku ingat, ada yang rusak pada bagian gearnya. Aku pun segera mengambil kunci berbentuk L untuk memperbaikinya. Setel sana sini akhirnya pun selesai. Aku mencobanya untuk melihat apakah sudah pas atau belum setelannya.


Yang namanya sudah sehati, niat itu pun muncul. Aku merasakan seolah darahku berdesir dengan cepat. Kupacu sepedaku dengan kencang. Aku menikung di perempatan jalan. Di balik tikungan tersebut aku melihat ada polisi tidur. Dengan sekuat tenaga aku kembali mengayuh pedal sepedaku dan...
Terbang..., aku melompati polisi tidur tersebut dan melayang sejenak di udara sampai akhirnya mendarat di aspal kembali.

Merasa Bebas
Akibat ulahku tadi, aku merasa begitu lepas. Aku merasa semangat dan gairahku pun kembali. Mungkin inilah yang namanya hobi, ketika kita melakukan hobi tersebut, gairah hidup kita pun serasa kembali.
Melihat waktu menunjukan pukul 17.00 WIB akupun bergegas kembali pulang dengan niat yang ada didalam kepala. Ya, aku ingat ini Bulan Mei dan biasanya matahari berada di belahan bumi bagian utara. Ini merupakan waktu yang tepat. Kenapa? Karena dari pantai sebelah timur sumatera (Pantai Timur Sumatera) kita dapat menyaksikan sunset tepat tenggelam di atas permukaan laut.
 Aku tinggal di Lubuk Pakam. Dan jarak pantai dari rumahku tidak begitu jauh, berkisar 10 - 15 Km. Baju, sarung tangan, helm dan sepatu aku persiapkan. Tak lupa pula membawa minum yang dikemas dalam botol minuman. Setelah semua persiapan selesai aku pun bergegas untuk beranjak pergi.
Cuaca sore ini terasa begitu cerah, matahari masih memancarkan sinarnya dengan begitu terik. Aku tetap semangat, jalanan yang berlubang, kerikil - kerikil yang bertaburan serta tanjakan yang ada karena jembatan aku jalani. Peluh demi peluh mulai menetes di sekujur tubuhku, namun semangatku terus berkobar. Bertempur melawan teriknya panas matahari demi mendapatkan deburan ombak dan matahari terbenam di Pantai Timur Sumatera. Ini lah yang terus ada dibenak kepalaku.

Lumbung Padi & Kampung Nelayan
Untuk menuju pantai yang dituju, aku melewati hamparan padi yang luas. Padi tersebut masih hijau dan belum terlalu tinggi. Namun sejauh mata memandang, hanya hamparan hijau yang terlihat, terkadang ada beberapa gubuk yang ada diantara hamparan padi tersebut.
Yah, aku memasuki Desa Ramunia. Desa ini dikenal sebagai Lumbung Padi di Kabupaten Deli Serdang. tak heran jika sejauh mata memandang hanya hamparan padi yang hijau terlihat dari sisi jalan ini.

Muara sungai yang dijadikan jalur nelayan untuk melaut

Ketika jalanan sudah mulai memasuki perkampungan, suasana begitu ramai. Anak  anak bermain di halaman rumah, sebagian orang tua, terutama kaum lelaki ada yang sedang berkumpul di warung kopi, sebagian ibu - ibu juga berkumpul di teras rumah halamannya.
Bagi penduduk setempat yang mayoritas bermata pencarian sebagai petani, masa seperti ini tidak terlalu sibuk. Padi yang sudah tumbuh seperti saat ini tidak menyita waktu yang banyak bagi mereka, hanya beberapa kali membutuhkan pupuk untuk mampu berkembang biak pada tunas bagian bawah agar lebih banyak.
 Di sela rumah - rumah warga juga terlihat kilang padi yang jumlahnya juga dapat dikatakan banyak. Kilang - kilang tersebut juga tidak terlalu sibuk. Mungkin karena bukan masa panen. Mayoritas suku yang ada di desa tersebut adalah suku batak dan beragama kristen. Hal ini terlihat dari logat bicara dan banyak berdiri gereja - gereja yang megah.
Selesai mengamati desa tersebut, aku kembali mengayuh sepedaku dengan kencang. Kali ini aku kembali memasuki sebuah perkampungan yang sangat berbeda dengan Desa Ramunia tadi. Dikampung ini banyak terlihat ikan - ikan kecil dijemur dihalaman rumah, aktivitas warga terutama kaum lelaki disibukkan dengan menjahit jaring - jaring yang tergantung.
Ternyata aku memasuki perkampungan nelayan, Desa Palu Sebaji namanya. Desa ini berada di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Sesuai dengan nama kampungnya, mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai nelayan. Tak jauh dari perkampungan tersebut, aku mendapati sebuah sungai. Sungai ini sangat ramai, banyak kapal - kapal nelayan sederhana berjaajar rapi di tepian sungai tersebut. Ada yang sibuk menguras air dari lambung kapal, ada yang sibuk melipat jaring dan ada juga yang sedang merapikan bagian luar kapal.

Duduk di Atas Pohon Tumbang
Puas menyaksikan aktivitas warga perkampungan nelayan, aku pun kembali mengayuh pedal sepedaku. Jalanan kali ini didominasi dengan pemandangan hutan bakau dan tambak - tambak ikan. Sesekali terlihat bangunan tinggi yang merupakan rumah penangkaran burung walet.

Pohon tubang yang berada di bibir pantai

Di ujung jalan, terlihat sebersit cahaya putih kebiru-biruan dengan hamparan yang luas. Yah, sudah sedikit terlihat laut yang akan dituju. Akupun kembali mengayuh sepedaku dengan kencang. Angin sepoi - sepoi, hamparan rumput yang hijau serta pohon cemara berjajar rapi ditepian pantai. Terlihat gubuk - gubuk sangat sepi. Maklum, hari ini bukan hari libur sehingga tak banyak wisatawan yang berkunjung.
Aku terus mengayuh sepedaku sembari berteriak sekuat - kuatnya merasakan kebahagian karena melihat keindahan pantai ini. Aku memilih di ujung pantai tersebut, karena di ujung tersebut terdapat muara sungai yang biasa menjadi jalur lalu - lintas nelayan setempat.
Pantai yang aku kunjungi saat ini bernama Pantai Serambi Deli. Pantai ini terletak di Desa Palu Sebaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Pantai ini merupaka pantai yang dikelola oleh kelompok masyarakat setempat. Namun jangan anggap remeh, pantai ini terlihat bersih dan tertata rapi. Pondok-pondoknya pun juga sebagian terbuat dari beton dan berkeramik, walaupun ada juga pondok yang terbuat dari tepas dan bambu. Jalanan di sekitar lokasi juga sudah di pasang paping blok.
Aku memakirkan sepedaku di pinggiran pantai. Deburan ombak, angin sepoi - sepoi serta suasana senja matahari memberikan suasana yang menyenangkan bagiku. Matahari pun masih terlihat jelas. Aku duduk diatas pohon yang tumbang dekat dengan bibir pantai.
Diatas pohon inilah, aku menyaksikan detik demi detik matahari mulai tenggelam. Cipratan air laut terkadang membasahi kakiku. Kapal - kapal nelayan juga lalu lalang melintas dimuara sungai. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Kaki yang pegal tadi tak kurasakan kembali. Yang ada hanya perasaan senang serta hati yang puas karena bisa menyaksikan sunset dengan perjuangan yang telah aku lakukan barusan.

Anak - anak nelayan yang hendak memasang bubu/ perangkap ikan

Aku duduk menikmati suasana tersebut sampai matahari benar - benar tenggelam dan warna langit berubah menjadi gelap. Dengan hati yang senang aku kembali kerumah dengan mengayuh sepedaku dengan santai. 

Senin, 13 Mei 2013

Mengejar sang fajar di Gunung Sibayak

Fajar di Gunung Sibayak yang diselimuti oleh kabut

Suasana wekend selalu penuh dengan keceriaan dan rencana perjalanan. Begitu lah yang aku alami setiap wekend tiba. Karena Indonesia merupakan surga bagi para pencinta traveller. Kali ini aku akan menceritakan perjalanan menikmati udara dingin pegunungan untuk menyaksikan sang fajar terbit.
Mobil bus meraung dijalanan yang mendaki, dari balik jendela sepasang mata sedang menatap jalanan berliku. Harapan dan angan - angan tergambar diatas kepala. Pendakian ke gunung ini bukan untuk yang pertama kalinya dilakukan. Dan yang pasti bukan hanya satu cerita yang dapat diceritakan.
Bayangan dan angan - angan tersebut muncul karena pertama kalinya perjalanan dilakukan melanggar estetika pendakian. Suatu hal yang tidak sewajarnya dilakukan hanya untuk mencari kesenangan belaka. Bukan hal yang bersifat fital ataupun mendesak.

Peregangan tubuh sebelum melakukan pendakian
13 orang muda - mudi yang kebanyakan pemula dalam kegiatan pendakian sedang melakukan pemanasan. Aktivitas mereka menarik perhatian para pengguna jalan karena dilakukan di pinggir jalan. Penatapan (Lokasi wisata untuk melihat pemandangan alam Sibolangit) menjadi titik awal start pendakian.
Terdapat tiga jalur untuk melakukan pendakian Gunung Sibayak. Jalur yang umum yaitu Jalur Pariwisata, jalur yang titik startnya dari Desa Jaranguda (Pajak Buah Berastagi), yang kedua Jalur Tangga, yang titik startnya dilakukan dari Desa Semangat Gunung atau pemandian alam air panas Sidebuk - debuk. Dan yang ketiga yaitu jalur 54 yaitu jalur yang dimulai dari titik start KM 54 Medan - Berastagi atau tepatnya di Desa Doulu.
Kami memilih jalur 54. Jalur ini merupakan jalur yang cukup menarik untuk melakukan pendakian. selain jalurnya yang melewati hutan alami, treknya juga tidak begitu terjal. Butuh waktu empat sampai lima jam untuk melakukan pendakian secara normal.
Pendakian dilakukan pukul 15.00 WIB, tim berjumlah 14 orang yang terdiri dari 7 laki-laki dan 7 perempuan. Peranku disini hanya sebagai pendamping untuk mengawasi sang penunjuk jalan.
Pendakian dilakukan cukup lambat, namun mereka terus berjalan secara konstan. Sebelum mencapai shelter (titik/tempat peristirahatan) satu, ada satu orang di diantara pendaki balik ke titik start dikarenakan hpnya tertinggal di post lalulintas tempat ia mengisi ulang hpnya.
Setibanya ia kembali dengan kondisi hp yang masih ada, kami melanjutkan perjalanan kembali. Satu persatu tim mulai merasa letih. Disinilah aku mulai menanamkan nikmatnya mendaki gunung. “Mari kita nimati suasana ini, pepohonan yang besar nan rimbun, kondisi yang tenang karena tidak ada klakson, udara sejuk dan beberapa kicauan burung serta mamalia yang saling sahut-sahutan. Suasana seperti ini tak akan didapatkan di perkotaan sana”.
“Bukankah ini kehendak kita untuk mendaki gunung, pemandangan dipuncak adalah bonus bagi orang yang beruntung. Sebab tak selamnya pemadangan dipuncak selalu indah. Bila kabut ataupun hujan datang, tak ada lagi yang bisa dinikmati. Jadi, lebih baik kita nikmati suasana perjalanan ini”. Ucapku kepada mereka. belum merasa yakin, aku kembali berusaha memotivasi mereka. “Lihat ekspresi dari raut wajah teman- teman kalian, lucu bukan. Kebersamaan, pershabatan, konflik, ataupun tindakan - tindakan konyol kalian ini akan menjadi pengalaman yang menarik untuk diceritakan nantinya”
Tak lama kemudian, semangat mereka pun datang kembali. Tak ada lagi raut wajah musam ataupun mengeluh. Senyuman dan tawa riang mulai terlihat diwajah mereka. sangking semangatnya pemandu jalan didepan yang juga masih belajar karena baru pertama kali naik ke gunung ini tidak menyadari bahwa ada persimpangan. Aku pun tak sadar karena terlalu asyik menikmati suasana senja.
Aku tersadar ketika rombongan depan berhenti. Aku berusaha melihat kedepan dan ternyata terdapat rimbunan pandan hutan yang lebat, daun daun berduri berserakan dibawah, batang - batangnya membentuk seperti jaring laba - laba yang sulit untuk dilalui. Aku berusaha untuk mencari jalan kedepan serta seputaran sekitar, namun tak kunjung ditemukan jalan utamanya. Aku berinisiatif untuk menerabasnya. Karena bagaimanapun, puncak selalu diatas dan karakter hutan pandan biasanya akan bertumpuk (merapat) satu tempat saja. Ketika sudah dilewati akan masuk ke tanaman perdu yang tidak terlalu tinggi.
Namun ternyata dugaanku salah, hutan pandan ini sangat luas. Dan beberapa kali dihadapkan dengan medan yang sangat curam. Kondisi saat itu sudah gelap, waktu menunjukan pukul 19.00 WIB. Maka aku menyuruh seluruh tim untuk istirahat dulu. Sembari istirahat aku berusaha untuk mengingat dimana letak kesalahan dan keputusan yang akan diambil.
Setelah istirahat dan makan cemilan, fikiran itu muncul. Aku memutuskan untuk kembali ke jalur sebelumnya dan memperhatikan simpang yang sempat diragukan. Namun ada inisiatif dari salah satu tim untuk melakukan doa. Maka doa pun dilakukan. Doa saya yang pimpin.
Selesai doa, perjalanan pun dilanjutkan. 15 menit berjalan tim menemukan persimpangan yang dimaksud. Jalan tersebut mengarah kesebelah kanan (saat posisi berjalan naik). Hal ini sangat mendukung karena ketika berjalan di hutan pandan sebelumnya aku berusaha memanjat ranting pohon untuk melihat puncak sibayak dan terlihat puncak tersebut berada disebelah kanan. Namun disaat mencari menerabas kekanan namun tak juga dapat menemukan jalan normal yang dimaksud.
Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi yang gelap dan licin. Walaupun jumlah alat penerangan yang tidak maksimal, tim tetap berusaha melanjutkan perjalanan. Tanaman perdu yang lebat dan tanah yang telah tergerus oleh air hujan menggambarkan seperti terowongan. Jalan menunduk sembari harus memanjat bebatuan acap kali dilakukan.
Ketinggian lambat laut semakin bertambah, kondisi medan juga semakin sulit. Namun bayangan hitam dari pegunungan bukit barisan terlihat dibelakang. Hal tersebut menambah semangat kami. Hingga perjalanan berhenti pada titik hamparan datar perdu dekat puncak sibayak.
Disinilah kami mendirikan tenda. Hal tersebut sudah aku perhitungkan sejak awal karena dititik ini kita dapat melihat gemerlap malam lampu kota berastagi, sidebuk - debuk dan lampu PLTU G. Sibayak. Tak hanya itu, dari tempat ini ketika fajar tiba dapat menyaksikan sunrise di sebelah timur. Tepat dimana tenda kami menghadap. Dan hal yang paling penting daerahnya datar serta aroma belerang jarang tercium dari lokasi ini.
Tenda bergegas dipasang mengingat udara semakin dingin. Kaum laki-laki yang ditugaskan untuk memasang camp dan kaum wanita ditugaskan untuk menyiapkan makan malam. Begitu camp telah didirikan dan makan malam telah siap dihidangkan, makan bersama pun dilakukan. Canda tawa dan saling ejek akan perjalanan yang telah dilewati barusan menghiasi makan malam saat itu. Disini letak keindahan yang dapat dirasakan. Kegiatan positif di akhir pekan yang penuh dengan kebersamaan.  
 Rasa letih akibat perjalanan yang telah dilalui mengakibatkan rasa kantuk mulai menerpa. Sebagian dari mereka langsung tidur didalam tenda, dan ada sebagian yang masih asyik menikmati malam di pegunungan sambil menyaksikan gemerlap lampu kota dengan pasangannya. Sedangkan saya sendiri asyik mencabuti duri rotan yang tertanam di kaki ketika menerabas hutan pandan tadi.

Aku dibantu oleh erwin, yang menjadi guide perjalanan tadi. Ia dengan tekun mencabuti satu persatu duri - duri kecil yang tertanam. Sakit terkadang ketika luka koyak pada kulit dibersihkan dengan alkohol. Tak jarang si Erwin sering mengejeku bahwa aku manja.
Pagi pun menjelma muncul, suara azan mulai berkumandang. Aku mencoba membuka pintu tenda dan melihat kondisi sekitar. Betapa menabjubkan, ribuan cahaya bintang bertabur di angkasa. Hal tersebut terjadi karena tidak ada pencemaran cahaya di pegunungan sehingga kita dapat menyaksikan berbagai cahaya bintang di langit.
Di sisi lain, para pendaki lain juga mulai terdengar suaranya. Sepertinya mereka naik dari jalur tangga dan juga jalur wisata. Mereka berteriak melihat keindahan yang juga kami lihat saat itu juga. Satu persatu dari tim juga mulai ikut keluar dan mulai menyaksikan keindahan tersebut. Tak mau kalah mereka juga ikut berteriak menyaksikan keindahan tersebut.
Dari sisi timur, cahaya merah jingga mulai tampak dibalik awan hitam ke biru - biruan. Kami berharap matahari segera muncul. Tak mau buang waktu, aku menyuruh tim untuk memasak sarapan pagi. Dan sebagian lainnya mulai sibuk mengambil foto.

Aku mengambil matras dan mengambil trangia untuk memasak air. Menikmati fajar pagi tak lengkap rasanya jika tak ada kopi ataupun teh panas. Selang beberapa menit kemudian ternyata awan tebal menyelimuti matahari tersebut, hanya cahaya putih yang tampak dari ufuk timur. Lokasi sekitar pun mulai diselimuti oleh kabut. Angin uga tak mau kalah, ia bertiup dengan kencang membawa udara dingin pagi hari dipegunungan.
Sedikit kecewa ketika tidak dapat menyaksikan matahari terbit secara sempurna, namun cahaya yang dipancarkannya ternyata dapat dirasakan walaupun diselimuti oleh kabut. Udara hangat begitu terasa ketika menyentuh kulit. Suasana pun lebih dramatis. Hal ini memberikan semangatku kembali. Dokumentasi dari berbagai sudut dan posisi terus kami lakukan sampai pada tingkat jenuh dan bosan.

Foto bersama di depan kawah G. Sibayak

Selesai itu, kami sarapan pagi dan bergegas untuk mempacking barang - barang kami.kemdian tim melanjutkan perjalanan menuju puncak yang tinggal beberapa ratus meter lagi. tim mengabadikan foto dan kemudian turun kebawah untuk menikmati panorama kawah gunung sibayak yang juga masih aktif itu. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk turun kebawah melalui jalur pariwisata yang akan menuju kota Berastagi.

Kamis, 18 April 2013

Tahlilan & Kenduri

Budaya Jawa Tahlilan 

Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan. Hal tersebut didukung oleh beraneka ragamnya suku dan agama yang ada di Indonesia. Budaya tersebut menggambarkan seluruh aktivitas kehidupan. Kali ini saya akan menceritakan budaya Suku Jawa yang merupakan suku terbesar di negara ini. Setahun yang lalu, kakek saya meninggal. Dia asli orang Jawa dan beragama Islam. Dihari kematiannya, tiga hari berturut-turut diadakan tahlilan. Tahlilan ini berupa pembacaan ayat-ayat al-Quran serta Surat Yasin. Tahlilan tersebut diikuti oleh warga setempat, kerabat ataupun sanak saudara tanpa ada unsur undangan ataupun ajakan dari ahli bait (tuan rumah).

Mereka datang berbondong - bondong memakai pakaian muslim dan peci (tutup kepala yang biasa digunakan untuk sholat) untuk melakukan tahlilan. Tahlilan umumnya dihadiri oleh kaum laki-laki yang sudah dewasa dan dilaksanakan setelah Sholat Isya (salah satu bagian dari sholat 5 waktu dalam ajaran islam). Tahlilan ini dilakukan bukan hanya pada waktu 3 hari pertama secara berturut-turut, namun dilakukan juga pada hari ketujuh atau bahasa jawa menyebutnya metong dino, hari ke-40 (Matang Puluh), hari ke-100 (Nyeratos), hari ke-365 atau satu tahun (Mendak), dan hari ke-1000 (Mendak telu).

Ketika saya tanyakan tujuan dari peringatan hari-hari tersebut, saya hanya sedikit mendapatkan penjelasannya. Dikatakan oleh paman saya yaitu “Untuk penyempurnaan, manusia itu hidup di dunia kan tidak ada yang sempurna”. Jadi saya beranggapan ketika melihat acara tersebut berarti penyempurnaan yang dimaksud yaitu penyempurnaan amal ibadah. Saya kemudian bertanya kembali “emang ada dianjurkan dalam agama islam paman?” dan jawabannya “ada, dalam Al-quran dijelaskan bahwa doa anak orang soleh diterima oleh Allah SWT. Ingat, doa ANAK SOLEH, bukan harus anak kandung. Maka dari itu kita memperingati semoga para tamu /peserta tahlilan yang datang adalah anak soleh sehingga doa-doa dan ayat-ayat Al-quran yang dipanjatkan dapat menyempurnakan amal ibadah kakek. Hal itu juga disarankan dalam adat Budaya Jawa dan Sifat 20” jelas paman.

Namun ketika saya tanya lagi tentang apa itu Sifat 20, ia enggan menceritakannya. Sebab, Sifat 20 itu antara ada dan tiada. Dan saya pun tidak mau membahasnya lebih dalam.

Sejarah kenduri/kenduren 

Maka saya berusaha mencari tahu lebih lanjut. Alhasil saya mendapatkan informasi sedikit tentang acara yang diadakan untuk kakek saya. Acara tersebut ternyata salah satu bagian dari kenduri. kenduri/kenduren artinya do’a bersama yang dihadiri oleh para tetangga dan dipimpin oleh pemuka agama atau yang dituakan di kampung setempat. Tujuan dari kenduri ini adalah meminta keselamatan buat yang didoakan beserta keluarganya.

Dari mana asal kenduri ini? Menurut pengamat budaya dan sejarah Agus Sunyoto dalam artikelnya (http://www.antaranews.com) bahwa budaya kenduri kematian yang dilakukan umat Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa bukan karena pengaruh Hindu atau Budha karena di kedua agama itu tidak ditemukan ajaran kenduri.

Agus menegaskan bahwa, dalam agama Hindu atau Budha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000. Catatan sejarah menunjukkan bahwa orang Campa memperingati kematian seseorang pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 dan ke-1.000. Orang-orang Campa juga menjalankan peringatan khaul, peringatan hari Assyuro dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Mencermati fakta tersebut, maka Agus berkeyakinan tradisi kenduri, termasuk khaul adalah tradisi khas Campa yang jelas-jelas terpengaruh Faham Syi`ah.

Jika kita mau merunut sejarah, istilah kenduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia, yakni Kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahroh, puteri Nabi Muhammad SAW. 

Fenomena sublimasi nilai ritual dan budaya ini jika ditinjau dari aspek sosio-historis adalah dikarenakan munculnya tradisi kepercayaan di Nusantara ini banyak dipengaruhi oleh pengungsi dari Campa yang beragama Islam. Peristiwa yang terjadi pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi itu rupanya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural religius di Majapahit khususnya dan di pulau Jawa pada umumnya.

Hal ini bisa dilacak melalui contoh kebiasaan orang Campa yang memanggil ibunya dengan sebutan “mak”, sedangkan orang-orang Majapahit kala itu menyebut “ibu” atau “ra-ina”. Di Surabaya dan sekitarnya, tempat Sunan Ampel menjadi raja, masyarakat memanggil ibunya dengan sebutan “mak”. Pengaruh kebiasaan Campa yang lain terlihat pula dalam cara orang memanggil kakaknya atau yang lebih tua dengan sebutan “kang”, sedangkan orang Majapahit kala itu memanggil dengan sebutan “raka”. Untuk adik, orang Campa menyebut “adhy”, sedangkan di Majapahit disebut “rayi”. 

Pada dasarnya ada perbedaan diantara pengaruh muslim Cina dengan Campa di masa-masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit atau di era Wali Songo. Muslim Campa selama proses asimilasi melebur dengan penduduk setempat, hingga watak Campanya hilang dan berbaur dengan kejawaan. Sedangkan muslim Cina masih cukup kuat menunjukkan eksistensi kecinaannya sampai beberapa abad. 

Itulah gambaran singkat tentang sejarah kenduri. Saya menulis ini karena rasa keingintahuan dan kecintaan saya akan budaya Indonesia. harapan saya dengan ini budaya tersebut tetap terjaga. Dan kata terakhir semoga tulisan ini bermafaat bagi kawan-kawan yang membacanya. Amin.

Jumat, 12 April 2013

Mahasiswa Pecinta Alam & Perkembangannya

Foto di Puncak Mahameru, Tempat dimana meninggalnya  Soe  Hok  Gie

Apa yang muncul dibenak fikiran ketika ditanya tentang Mapala singkatan dari kata Mahasiswa Pencinta Alam? Dapat dipastikan jawaban yang paling banyak yaitu mendaki gunung. Pertanyaan berikutnya, kenapa mesti Pencinta Alam? dari mana kata itu berasal? Sebagai informasi, kata pencinta alam hanya ada di indonesia. di negara lain, kegiatan yang berkecimpung di alam bebas mereka sebut dengan aktivis lingkungan. Lalu, siapa pendiri kelompok mapala pertama di Indonesia? Dan tahun berapa Mapala di Indonesia dibentuk? 

Kelompok Pencinta Alam di indonesia di bentuk oleh seorang aktivis dari Universitas Indonesia, yaitu Soe Hok Gie. Gagasan itu muncul karena merasa jenuh dengan situasi yang penuh intrik dan konflik politik. Soe ingin membentuk suatu organisasi yang bisa jadi wadah berkumpulnya berbagai kelompok dari kalangan aktivis. Namun bukan bergiat di arena politik praktis, tapi di alam bebas. Soe berpendapat bahwa rasa patriotisme tidak dapat tumbuh hanya dengan slogan - slogan indoktrinasi ataupun poster - poster belaka, namun dengan jalan hidup di tengah alam dan di antara masyarakat kebanyakan.

Lalu pada 8 November 1964, mahasiswa pencinta alam pertama di indonesia pertama didirikan dengan nama “MAPALA PRAJNAPARAMITA” yang saat ini disebut dikenal dengan nama MAPALA UI. Sesuai dengan gagasan dari pencetusnya, Mapala Prajnaparamita memiliki tujuan yang pertama, Memupuk rasa patriotisme dikalangan anggotanya, yang kedua yaitu mendidik mental dan fisik, serta yang terakhir yaitu mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial. 

Lalu, bagaimana dengan perkembangan mapala saat ini? Dapat dilihat, hampir setiap perguruan tinggi dari berbagai daerah memiliki organisasi pencinta alam. Bahkan dalam satu kampus terdapat beberapa organisasi pencinta alam. Contohnya seperti di kampus UGM terdapat 38 organisasi pencinta alam, yang terdiri dari Mapala Universitas, Fakultas, serta Jurusan. Hal tersebut tak jauh beda dengan di Sumatera Utara, khususnya di Universitas Sumatera Utara. Terdapat 5 kelompok pencinta alam yang terdaftar di Pusat Koordinasi Daerah MAPALA-SU. Yaitu KOMPAS - USU untuk tingkat Universitas, PARINTAL untuk Fak. Pertanian, GEMAPALA untuk Fak. Ilmu Budaya, NATURAL JUSTICE untuk Fak. Hukum dan BIOPALAS untuk Jurusan Biologio Fak. MIPA USU. Setiap organisasi pencinta alam memiliki tujuan masing - masing. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan peranannya.

Logo KOMPAS - USU 

Saya mengambil sample KOMPAS - USU. Organisasi ini memiliki tujuan yaitu “Membina insan akademis yang sadar, mampu dan bertanggung jawab dalam melestarikan alam sebagai lingkungan hidup yang sehat”. Hal tersebut tertera dalam AD/ART organisasi pasal 5. Sejalan dengan tujuannya, dalam setiap kegiatan yang dilakukan KOMPAS - USU selalu mengutamakan hal pembinaan sebagai seorang akademisi. Kepetualangan alam bebas seperti perjalanan Hutan Gunung, Arung Jeram, Susur Gua, Panjat Tebing, Sepeda Gunung, ataupun kegiatan kepetualangan alam bebas lainnya tetap dilaksanakan. Hal ini mengingat organisasi ini berorientasi dari minat dan bakat. 

Anggota KOMPAS - USU yang menemukan penebangan di kawasan hutan lindung dalam kegiatan Eksplorasi Ekosistem Rimba pada tahun 2011 lalu. Copyright foto : Dedy Zulkifli   


Namun, agar tujuan organisasi dapat tercapai KOMPAS - USU berusaha untuk menyeimbangkan antara kepetualangan dengan pembinaan insan akademis. Baik itu dalam segi mental, kesadaran, hal teknis maupun studi ilmiahnya. Sebagai contoh kegiatan mendaki gunung. Mendaki bukan hanya sekedar mencintai dari hal menikmati keindahan alam, namun rasa solidaritas dan sosial juga ditumbuhkan dalam satu tim perjalanan. Menolong sesama tim yang membutuhkan bantuan menjadi dasar untuk pencapaian sebuah tujuan bersama. 

Tidak hanya itu, bentuk tanggung jawab juga diberikan seperti membawa kembali sampah yang bersifat non organik. Serta hal - hal yang lainnya yang berupa pembinaan selalu ditanamkan kepada anggotanya dalam setiap kegitan kepetualangan. untuk pembahasan manfaat mendaki gunung akan dikupas dalam edisi berikutnya. Tujuan tersebut di aplikasikan dalam kegiatan kepetualangan seperti Ekspedisi nephenthes di Taman Nasional Gunung Leuser 2009, Eksplorasi Ekosistem Rimba di sekitar kawasan Hutan Lindung Sibayak - Pintau dan Langkat pada tahun 2011, Pengamatan dan Pendokumentasian Angrek di sepanjang jalur Deleng Simpulan Angin - Deleng Barus, dan Pendakian dan Pendokumentasian Kantong Semar di G. Sibuatan pada tahun 2012, serta kegiatan terakhir bulan april lalu Inventarisir Jamur di sepanjang jalur pendakian Gunung Sibuatan. 

Hal tersebut dilakukan oleh anggota dari berbagai disiplin ilmu. Baik itu Fakultas Ekonomi, Ilmu Budaya, Hukum, Teknik, Kedokteran, Ilmu Sosial & Politik, serta fakultas lainnya. Tidak ada kata yang pernah terucap “bukan bidangku” dari setiap anggota. Kegiatan berasal dari minat dan ketertarikan akan keindahan alam yang diaplikasikan dengan tindakan nyata dari mereka. Organisasi hanya memfasilitasi dan menunjang terselenggaranya kegiatan. Itulah sebagian gambaran dari kegiatan yang dilakukan oleh KOMPAS - USU yang merupakan singkatan dari Korps Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup Universitas Sumatera Utara. Perkembangan kegiatan dari salah satu mapala di Sumatera Utara.

Selasa, 27 Maret 2012

Lubuk Pakam

suasana kota Lubuk Pakam
Beberapa hari yang lalu ketika hendak pulang kerumah, aku menyempatkan diri untuk berjalan – jalan di taman kota Lapangan Segitiga Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang Sumatra Utara. Kenapa dikatakan Lapangan Segitiga?? Secara umum lapangan kan bentuknya persegi panjang!!
Sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh sebagian pendatang yang merasa heran dengan penamaan taman tersebut.
Dikatakan Taman Umum Lapangan Segitiga sebab taman tersebut jika ditarik secara keseluruhan atau secara utuh memang berbentuk segitiga. Cuma terdiri dari tiga bagian. Bagian yang runcing itu dijadikan tugu bank daerah yaitu Bank Sumut. Konon dahulunya tugu ini akan dijadikan tugu ikon Lapangan Segitiga oleh Pemkab Deli Serdang. Namun karena dananya yang tidak jelas, pembangunannya jadi terbengkalai. Kemudian pembangunan tersebut diambil alih oleh Bank Sumut sehingga loga atau ikon Bank Sumut lah yang terlihat di tugu tersebut.
Selanjutnya bagian kedua yaitu Taman Mahkam Pahlawan Lubuk Pakam. Di makam tersebut jumlah pahlawan yang dikebumikan disitu sangat sedikit. Sehingga ada teman saya yang baru datang ke Pakam dan  melihat mahkam tersebut mengatakan “dari semua lokasi yang pernah aku kunjungi, mahkam pahlawan inilah yang paling kecil”. Mendengar pernyataan tersebut aku hanya tersenyum saja.
Dan bagian yang ketiga yaitu lapangan luas yang berbentuk persegi yang tak sama sisi. Bagaikan sebuah segitiga, namun bagian ujung yang runcingnya dibuang. Seperti itulah gambaran bentuknya. Di pinggiran lapangan tersebut dibuat trotoar untuk masyarakat melakukan jogging tau sekedar jalan santai.
satu porsi siomay tanpa telur

Disini aku ingin berbagi inforasi tentang jajanan / kuliner yang selalu membuat saya ketagihan. Dari semenjak saya SMA sampai Kuliah bila ada kesempatan aku selalu menyempatkan untuk makan siomay yang berjualan didepan mahkam pahlawan tersebut. Harganya pun relatif murah, perporsinya cuma goceng atau lima ribu rupiah. Sudah lengkap dengan bakso, telur dan kacang gorengnya. Sayang, waktu saya datang telurnya sudah habis jadi saya tidak merasakannya.
pedagang siomay yang berjualan di depan mahkam pahlawan

Pedagang siomay yang orientasi pasarnya fokus pada anak sekolah ini berdagang mulai pukul 10.00 WIB sampai dagangannya habis. Umumnya pukul 16.00 dagangannya sudah habis. Pedagang yang bernama Pak Heri, berumur 37 tahun ini sudah berjualan selama 6 tahun lebih. Penghasilan rata-ratanya mencapai 100 ribu perhari. 
Pohon kelapa dan pohon asam peneduh lokasi jajanan
Suasana tempat makannya pun asyik, dibawah rindangnya pohon asem dan pohon asem serta hijaunya rerumputan menambah asyiknya suasana makan. Angin sepoi – sepoi plus es kelapa muda akan merefreskan fikiran sejenak. Walaupun makan dipinggir jalan para pengunjung tidak perlu khawatir dengan debu jalanan. Sebab anak dari pedagang tersebut selalu menyiram jalanan tempat para mobil melintas. Dan jarak lokasi tempat makan kita pun sebenarnya juga jauh kok dari jalan. Jadi masih higenis kok maknannya. 
anak pedagang siomay yang sedang menyiram jalanan

Setelah selesai makan siomay aku berkeliling ke kota lubuk pakam yang biasa aku lewati. Tapi kali ini suasananya berbeda sebab aku berjalan kaki dan memotret suasana perkotaan tersebut. Seolah-olah backpacker yang baru pertama kali datang ke kota tersebut. Hehehe...

Senin, 26 Maret 2012

pesisir pantai

Minggu, 25 maret 2012 aku bersama keluarga pergi ketempat saudara di daerah pesisir pantai. Tepatnya di Dusun Durian, Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Disini ada hal yang menarik yang mungkin tak jarang diketahui oleh banyak orang. Salah satunya cara mengupas kelapa dan mengikatnya menjadi berpasangan.
Cara mengupas kelapa dengan alat (Selundupan)

 Memang kelihatannya mudah, namun setelah mencobanya ternyata sulit untuk melakukannya. Butuh tenaga ekstra dan perlu kehati-hatian untuk melakukannya agar tidak terkena jari kita. untuk mengupas satu buah kelapa aku menbutuhkan waktu 5menit lebih. sedangkan bapak itu kurang dari satu menit sudah selesai. begitu juga untuk mengikat buah kelapa menjadi berpasangan (satu gandeng) juga sangat sulit. bukan hana sekedar kuat tetapi panjang sisinya juga harus sama sehingga untuk disusun atau digantung lebih seimbang.
setelah itu kami sekeluarga belanja ke tempat pelelangan ikan (TPI) pantai labu.
Seorang agen yang mejual tangkapan nelayan di TPI
 disini para nelayan yang melalut menjual hasil tangkapannya ditempat ini. kemudian ada agen atau perantara yang menampungnya dan kemudian perantara tersebut menjualnya lagi ke pengecer atau pedagang ikan keliling yang biasa berjualan dipusat pasar, atau keliling diperkampungan.
aku menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dengan nelayan yang menjual hasil tangkapannya ke TPI tersebut. dari hasil percakapanku dengannya aku mengetahui bahwa ia sudah melaut selama 5 tahun. berawakan 3 orang, dan masih menggunakan peralatan sederhana yaitu jaring dan mata pancing. namun dengan peralatan yang sederhana tersebut mereka sekali melaut secara normal mampu mengantongi Rp 100.000,00. Dalam seminggu mereka dapat melaut sekitar 5kali. jadi saya memprediksikan penghasilan rata-rata mereka secara normal berkisar 2juta perbulan.
selesai percakapan dengan nelayan tersebut, saya berjalan-jalan di pinggiran aliran sungai tersebut. melihat suasana dan aktivitas warga di perumahan nelayan tersebut. ada yang sedang mempersiapkan jaring untuk pergi melaut dan ada juga yang sedang membersihkan jaring setelah melaut. Dari situ baru aku bisa membedakan perahu-perahu mana yang hendak melaut dan mana yang sudah atau selesai melaut. kemudian pandanganku mulai tertuju pada suatu kandang yang berisi 4 ekor burung.
Burung yang bernasib malang
 aku tak tau pasti burung jenis apa namun aku merasa kasihan dengan nasib burung tersebut. yang seharusnya ia bisa terbang bebas menikmati ruang gerak yang bebas dan luas serta mencari ikan dipinggiran pantai.
begitu asyik aku rasa mengamati kehidupan masyarakat pesisir tersebut sampai aku tak menyadari bahwa matahari mulai menenggelamkan sinarnya.
suasana sunset di muara sungai
namun kehidupan disitu justru makin ramai. banyak warga yang sedang mengangkat tong-tong yang berisi air. ternyata air di sini rasanya payau dan lengket dikulit. sehingga mereka harus mengantri untuk mengambil air bersih yang berasal dari PAM PDAM Tirtanadi Medan. dan aku juga melihat warga juga masih memancing dipinggiran sungai.
warga yang memancing di senja hari

begitu kontras kehidupan disini dengan kehidupanku biasanya. dari sini aku belajar betapa beruntungnya kehidupanku. semestinya aku harus bersyukur dengan apa yang kumiliki sekarang. karena disetiap tempat, dimanapun lokasi dan bentang alamnya pasti memiliki keunggulan dan kelebihan. walaupun disini aku tidak menggambarkan secara terperinci kehidupan nelayan karena pada awalnya aku hanya ingin menceritakan kisah perjalannanku. namun karena terbawa suasana yang smpat mengalami tinggal dipesisir pantai dalam rangka kemah kerja (bakti sosial) bersama organisasi dikampus, aku merasa begitu menderita sampai-sampai aku menceritakannya mulai melebar. tapi intinya aku hanya berbagi cerita dan mudah-mudahan cerita tersebut dapat bermanfaat bagi pembaca. amien...