Kamis, 05 Desember 2013

Manusia Hedonisme

Aku malu, aku merasa hina dan begitu sedih. keceriaan berlalu begitu cepat, berganti dengan wajah yang senduh.

Hal itu bermula ketika aku mulai membuka media social yang sudah lama aku abaikan. Aku melihat teman - temanku, masih begitu giat dan peduli terhadap nasib mereka warga pengungsi erupsi G. Sinabung. Baik itu para fotografer, pers, komunitas motor trail, sepeda gunung dan bahkan komunitas yang aku anggap alay pun mereka juga masih peduli dengan mereka. 

Hal lain yaitu ketika melihat foto - foto terbaik versi TIME kebanyakan menggambarkan kondisi foto tragedi, bencana ataupun huru - hara yang terjadi di belahan bumi ini. http://lightbox.time.com/2013/12/02/time-picks-the-top-10-photos-of-2013/#2 dan satu yang paling memukul hati yaitu ketika aku mulai merasakan suasana makan bersama ala survive di tengah kota. 

Aku makan bersama kawan - kawan yang telah menggantikan posisi keberadaanku. aku mendengar cerita mereka, merasakan betapa bahagianya ketika mendapatkan rahmat ilahi yang entah datang darimana. Aku paham, aku mengerti, kondisi seperti ini sebenarnya adalah pilihan. selain kondisi survive kami juga harus menerima tekanan dari rasa tanggung jawab yang semakin hari semakin bertambah beratnya di bahu. Namun kami tetap tak pernah lari dari kondisi seperti itu.

aku malu pada diri sendiri karena aku telah terbuai dengan kenikmatan duniawi ini. aku tak lagi peduli dengan mereka. aku tak perduli lagi dengan kawan - kawan yang telah menggantikan posisiku sebelumnya. aku sibuk dengan kehidupan pribadiku dan kesenangan dalam melihat eksotisme alam ini. 

Sabtu, 28 September 2013

Berbagi Keceriaan dengan Lukisan

Melukis dapat membantu untuk berbagi keceriaan dengan anak - anak pengungsi erupsi gunung sinabung.



Delvita namanya, anak pengungsi erupsi letusan Gunung Sinabung di posko Kuta Rakyat dari Desa sigarang - garang.Usianya 5 tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Ia tak sekolah, karena sudah satu minggu ini memang sekolahnya diliburkan. Debu vulkanik yang masih terus dikeluarkan dari Gunung Sinabung serta status siaga yang belum dicabut oleh Badan Vulkanologi membuat kepala sekolah di sekolah dasar tersebut tetap meliburkan siswa - siswinya. 
Senyum yang manis terpancar dari seorang anak pengungsi dari Desa Sigarang - garang
Anak ini awalnya datang ketika aku sedang menuliskan keadaan dan kondisi yang terlihat di posko pengungsian ini dalam catatan perjalananku. namun tiba - tiba Delita muncul dihadapanku dan terus memperhatikan aktivitas yang aku lakukan. aku pun berkenalan dengannya dan menghentikan aktivitasku yang belum selesai. 

Tak disangka, anak tersebut mengambil alih pena dan buku catatanku. ia kemudia mencorat - coret buku tersebut. Namun, bodoh jika aku memarahi atau mengusirnya dari tendaku. aku mencoba mengarahkannya agar ia berkreasi, bukan mencorat - coretnya. mulai dari menulis alfabet, angka, dan juga menulis namanya.
kemudian aku memintanya untuk mencoba melukis. namun ia hanya tersenyum dan menjawab dengan logat karonya "tidak bisa".
Coretan dan gambar yang menghibur mereka
Lalu aku kembali mengambil alih buku tersebut, dan mencoba melukis. mulai dari gambar gunung sinabung meletus, burung, dan objek yang ada di sekitarnya. termasuk gambar yang di inginkan mereka.
Mungkin hanya itu yang bisa aku berikan mereka, melukis dan bercerita. aku tak terbiasa berdiri didepan umum dan membuat hiburan, games atau lelucon lainnya. aku tak punya keberanian untuk itu. aku juga tak punya makanan ataupun mainan lainnya yang bisa aku bagikan ke mereka. dan aku juga tak narsis seperti mereka yang menjadikan bencana sebagai background objek foto.


satu persatu mulai berkumpul dan merequest lukisan

Namun, dengan hanya melukis dan bercerita, aku bisa mengumpulkan anak2 tanpa harus aku suruh berkumpul, aku bisa membuat mereka tertawa tanpa harus melucu di depan mereka, dan aku bisa mengetahui apa yang tergambar dalam fikiran mereka tanpa harus menggali lebih dalam dengan berbagai macam pertanyaan.

Tim relawan

semua orang bergembira, mereka bisa ceria dan terhibur. walaupun hanya sesaat namun setidaknya mereka tertawa. begitu juga dengan para orang tua yang aku lakukan dengan mendengarkan keluh kesah mereka, berbagi pengalaman saat menjadi relawan di tempat lain, dan mengharapkan agar tetap positif thinking walaupun segala kondisi carut marutnya sistem manajemen posko pengungsian. kami bisa tertawa... menghalau rasa dingin dengan tertawa...
Mereka mulai bermain dan tertawa bersama dengan tim relawan

yah... begitu berharga dan besarnya manfaat tertawa.

Jadi, setiap orang bisa membantu dan berbagi untuk mengurangi segala kesedihan mereka yang sedang dirudung bencana. Begitu juga dengan kita tak seharusnya kita bersedih akan masalah yang kita hadapi.
semoga tulisan ini bermanfaat... amien.

Senin, 02 September 2013

Nasionalisme

Pagi buta, aku telah dihibur dan dibangkitkan jiwa dan raga dengan lagu-lagu nasionalisme. 

Sebuah film yang menceritakan seorang anak yang tinggal diperbatasan dan mengalami kediskriminasian, namun rasa nasionalismenya tetap berkobar. "Tanah Surga, Katanya..."

Entah mengapa, setiap aku mendengar lagu "Indonesia Tanah Pusaka" ciptaan Ismail Marzuki tubuh ini terus bergetar, air mata pun tak kuasa mulai menetes di wajah, ditambah dengan suasana pagi hari yang masih begitu sepi dan murni.
Aku senang, disaat Bangsa Indonesia sering dirudung oleh berbagai permasalahan, para pemimpin bangsa yang menjual harga diri bangsa, kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan kalangan tertentu, dan sang mentri pemuda dan olahraga yang tak hafal lagu kebangsaan "Indonesia Raya" (http://www.youtube.com/watch?v=fjWBTzhY-J0), aku disini terus dibangkitkan oleh rasa nasionalisme itu.
Yah, mungkin banyak yang menilai miring "kelompok ku". yang hobinya cuma suka naik gunung, pergi kehutan, menyusuri lorong - lorong sempit, mengarungi riak - riak sungai yang deras, memanjati tebing - tebing yang curam dan terjal, namun tak dapat dipungkiri hal itulah yang terus dan terus menumbuhkan rasa kecintaan dan bangga terhadap tanah air ini.
Kami bukan hanya bermain, ataupun merusaknya. kami belajar mengenal akan apa yang ada di tanah airku, tanah air kita, Bangsa Indonesia. Omong kosong kita berbuat untuk sesama, atas nama rakyat, mengangkat kemiskinan masyarakat yang tertinggal, namun kita tak pernah tau bagaimana rasanya hidup jadi mereka. Tinggal dipedalaman, membaur dengan mereka dan mengerti apa sebenarnya yang mereka butuhkan dan diharapkan.

Peringatan 17an di G. Sibayak oleh Kelompok Pencinta Alam Sumatera Utara

Coba lihat, berapa banyak pemuda yang kenal akan budayanya, minimal asal usul sukunya. Kita lebih senang melihat budaya orang luar yang sedang tren di layar televisi kita. Banyak dari kita menganggap budaya kita katrok, jadul, atau gak asyik. contoh sederhana adalah musik dangdut dengan music K-Pop. sangat jauh berbeda sekali.
Sadar atau tidak, itulah kerugian besar yang kita alami saat ini. Mengapa kita tidak mempopulerkan budaya - budaya kita. Toh orang diluar sana saja tertarik untuk mempelajari budaya kita. Lantas mengapa kita tidak. 
Kita sebagai generasi bangsa, sudah selayaknya mengenal, dan mengetahui budaya asli kita. Tumbuhkan rasa nasionalisme kita. Mungkin saat ini, kita masih tergerus oleh sistem, para pemimpin yang berkamuflase dengan semangat nasionalis. namun aku, kami, dan kawan - kawan pasti yakin dipelosok sana banyak sosok - sosok yang rasa nasionalismenya lebih kuat dibandingkan pemimpin kita saat ini. Ia terus berjuang dan rela berkorban demi bangsa walaupun diskriminasi yang terus ia terima. 

Ia yakin, bahwa akan ada perubahan yang lebih baik untuk merubah nasib bangsa kita, Bangsa Indonesia yang kaya raya ini. Terus lanjutkan perjuangan kita kawan - kawan. Aku, kami, Kalian, Kita semua...
Jayalah Indonesia.... 


Kamis, 01 Agustus 2013

Move On

Terbang bebas melayang di udara. melawan rasa takut, hadapi semua tantangan yang ada dan jadilah laki-laki yang sebenarnya...



Hidup memang selalu penuh dengan permasalahan. karena memang itulah arti dari sebuah kehidupan. masalah, masalah dan terus masalah. ketika kita tak ada masalah, tak ada beban, berarti kita tak hidup. 

Namun, yang jadi permasalahan yaitu bagaimana kita menyikapi permasalahan tersebut. Tak semua orang yang dapat bersikap positif dalam menyikapi permasalahan. Ketika kita tidak mampu mengatasinya, banyak diantara kita yang menjadi tidak produktif. Malas, bad mood, uring - uringan atau bahkan galau dalam istilah tren saat ini.

saya menulis cerita ini bukan berarti saya mampu mengatasinya, acapkali tanggung jawab yang seharusnya bisa saya selesaikan, gara-gara permasalahan yang menghadang membuat saya tidak produktif juga. namun karena keterbiasaan dan merasa harus bangkit belakangan saya telah mampu menyikapi permasalahan tersebut. jadi, dapat dikatakan cerita ini merupakan sebuah cerita untuk membagikan pengalaman bagi siapa saja yang sering dilanda masalah namun menjadi tidak produktif.
satu cara untuk mengembalikan semangat tersebut yaitu menjalankan hobi. Hobi adalah sebuah aktivitas yang dapat membuat seseorang yang meminatinya menjadi senang, gembira, atau pun merasa lepas. Dengan menjalankan hobi tersebut, aura energi yang ada pada tubuh kita akan keluar. sekilas, permasalahan yang dihadapi akan terlupakan sejenak.

Jika ditanya, saya hobi dengan kegiatan kepetualangan yang penuh dengan tantangan. Ketika sedang dihadapkan masalah, cukup bagi saya melakukan hobi tersebut. bersepeda, panjat atau pun berlari dengan sekuat tenaga hingga energi yang ada terkuras semua. hal ini yang akan membuat saya menjadi lelaki kembali.    

langkah selanjutnya yaitu mencoba berbagi cerita dengan orang terdekat kita. tapi ingat, semua kunci dan jawaban dari permasalahan itu sebenarnya ada pada diri kita sendiri. jadi, mau kepada siapapun kita bercerita, mau nasehat apapun yang diberikan akan tetapi jika kita tidak berkomitmen untuk menyelesaikannya hanya akan sia-sia belaka. jadi tujuan dari kita bercerita hanya mengurangi beban dalam diri atau dapat dikatakan mengeluarkan kekesalan atau pun sama dengan tindakan yang pertama tadi yaitu energi negatif dalam tubuh keluar.

dan yang terakhir yaitu pandai mengatur suasana. Ketika kita sedang bersedih, jangan putar lagu-lagu yang melow. Hard core, Rock, atau pun reggae yang dapat membuat kita senang dan gembira. jika perlu pasang music DJ agar kita ON Fire kembali. sedih perlu namun tak perlu berlama-lama. karena dengan kita bersedih, kita akan mengetahui bagaimana nikmatnya tertawa. hahahaha.....

Ketika kita sedang marah, kesal ataupun kecewa. cobalah banyak-banyak bersabar. Hetikan aktifitas sejenak dan cobalah tarik nafas sedalam - dalamnya dan kemudian lepaskan. kemampuan otak yang kita gunakan saat sedang kesal ataupun marah ternyata membutuhkan banyak oksigen agar mampu bekerja secara maksimal. positif thinking, lihatlah, tak ada gunanya kita menyalahkan keadaan. toh kejadian juga sudah terjadi, untuk apa kita marah-marah ataupun memaki keadaan. terkecuali ketika kita marah, keadaan dapat kembali lagi. kalau itu wajiblah hukumnya.

Fikirkan kembali masa depanmu, keinginan besar yang ingin kita gapai. apakah hal tersebut menghambat kita mencapainya. apakah tidak ada cara lain selain cara tersebut. dunia itu tak selebar daun kelor. so, nikmatilah, hadapilah, dan selesaikanlah, karena dengan kita menyelesaikan permasalahan tersebut akan ada kepuasan tersendiri yang bisa kita peroleh di akhir nantinya.
so, Are You Ready for Change?
let's go to REVOLUTION.. 

Senin, 10 Juni 2013

MENGEJAR SUNSET DI PANTAI TIMUR SUMATERA

Bertempur melawan teriknya panas matahari demi mendapatkan deburan ombak dan matahari terbenam di Pantai Timur Sumatera.

Sunset di Pantai Serambi Deli
Sepasang kaki mengayuh pedal sepeda gunung. Perjalanan kali ini terasa begitu berat, bukan karena tanjakan atau kondisi medan yang sulit. Namun karena kaki ini tidak terbiasa lagi untuk mengayuh pedal sepeda.
Sudah hampir berapa bulan sepeda gunungku teronggok di dalam gudang. Kesibukan dengan aktivitas akademik yang memasuki masa akhir dan juga aktivitas olahraga yang didominasi dengan mendaki gunung sehingga sepeda gunungku mulai terpinggirkan.
Rencana bersepeda ini dimulai ketika aktivitas sudah tidak terlalu banyak dan didominasi dengan berleha - leha untuk menenangkan fikiran dari rutinitas yang mulai menjenuhkan. Aku memasuki gudang dan melihat sepeda gunungku mulai diselimuti oleh debu. Sedih melihatnya, aku pun mengeluarkn sepeda tersebut.
Aku ingat, ada yang rusak pada bagian gearnya. Aku pun segera mengambil kunci berbentuk L untuk memperbaikinya. Setel sana sini akhirnya pun selesai. Aku mencobanya untuk melihat apakah sudah pas atau belum setelannya.


Yang namanya sudah sehati, niat itu pun muncul. Aku merasakan seolah darahku berdesir dengan cepat. Kupacu sepedaku dengan kencang. Aku menikung di perempatan jalan. Di balik tikungan tersebut aku melihat ada polisi tidur. Dengan sekuat tenaga aku kembali mengayuh pedal sepedaku dan...
Terbang..., aku melompati polisi tidur tersebut dan melayang sejenak di udara sampai akhirnya mendarat di aspal kembali.

Merasa Bebas
Akibat ulahku tadi, aku merasa begitu lepas. Aku merasa semangat dan gairahku pun kembali. Mungkin inilah yang namanya hobi, ketika kita melakukan hobi tersebut, gairah hidup kita pun serasa kembali.
Melihat waktu menunjukan pukul 17.00 WIB akupun bergegas kembali pulang dengan niat yang ada didalam kepala. Ya, aku ingat ini Bulan Mei dan biasanya matahari berada di belahan bumi bagian utara. Ini merupakan waktu yang tepat. Kenapa? Karena dari pantai sebelah timur sumatera (Pantai Timur Sumatera) kita dapat menyaksikan sunset tepat tenggelam di atas permukaan laut.
 Aku tinggal di Lubuk Pakam. Dan jarak pantai dari rumahku tidak begitu jauh, berkisar 10 - 15 Km. Baju, sarung tangan, helm dan sepatu aku persiapkan. Tak lupa pula membawa minum yang dikemas dalam botol minuman. Setelah semua persiapan selesai aku pun bergegas untuk beranjak pergi.
Cuaca sore ini terasa begitu cerah, matahari masih memancarkan sinarnya dengan begitu terik. Aku tetap semangat, jalanan yang berlubang, kerikil - kerikil yang bertaburan serta tanjakan yang ada karena jembatan aku jalani. Peluh demi peluh mulai menetes di sekujur tubuhku, namun semangatku terus berkobar. Bertempur melawan teriknya panas matahari demi mendapatkan deburan ombak dan matahari terbenam di Pantai Timur Sumatera. Ini lah yang terus ada dibenak kepalaku.

Lumbung Padi & Kampung Nelayan
Untuk menuju pantai yang dituju, aku melewati hamparan padi yang luas. Padi tersebut masih hijau dan belum terlalu tinggi. Namun sejauh mata memandang, hanya hamparan hijau yang terlihat, terkadang ada beberapa gubuk yang ada diantara hamparan padi tersebut.
Yah, aku memasuki Desa Ramunia. Desa ini dikenal sebagai Lumbung Padi di Kabupaten Deli Serdang. tak heran jika sejauh mata memandang hanya hamparan padi yang hijau terlihat dari sisi jalan ini.

Muara sungai yang dijadikan jalur nelayan untuk melaut

Ketika jalanan sudah mulai memasuki perkampungan, suasana begitu ramai. Anak  anak bermain di halaman rumah, sebagian orang tua, terutama kaum lelaki ada yang sedang berkumpul di warung kopi, sebagian ibu - ibu juga berkumpul di teras rumah halamannya.
Bagi penduduk setempat yang mayoritas bermata pencarian sebagai petani, masa seperti ini tidak terlalu sibuk. Padi yang sudah tumbuh seperti saat ini tidak menyita waktu yang banyak bagi mereka, hanya beberapa kali membutuhkan pupuk untuk mampu berkembang biak pada tunas bagian bawah agar lebih banyak.
 Di sela rumah - rumah warga juga terlihat kilang padi yang jumlahnya juga dapat dikatakan banyak. Kilang - kilang tersebut juga tidak terlalu sibuk. Mungkin karena bukan masa panen. Mayoritas suku yang ada di desa tersebut adalah suku batak dan beragama kristen. Hal ini terlihat dari logat bicara dan banyak berdiri gereja - gereja yang megah.
Selesai mengamati desa tersebut, aku kembali mengayuh sepedaku dengan kencang. Kali ini aku kembali memasuki sebuah perkampungan yang sangat berbeda dengan Desa Ramunia tadi. Dikampung ini banyak terlihat ikan - ikan kecil dijemur dihalaman rumah, aktivitas warga terutama kaum lelaki disibukkan dengan menjahit jaring - jaring yang tergantung.
Ternyata aku memasuki perkampungan nelayan, Desa Palu Sebaji namanya. Desa ini berada di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Sesuai dengan nama kampungnya, mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai nelayan. Tak jauh dari perkampungan tersebut, aku mendapati sebuah sungai. Sungai ini sangat ramai, banyak kapal - kapal nelayan sederhana berjaajar rapi di tepian sungai tersebut. Ada yang sibuk menguras air dari lambung kapal, ada yang sibuk melipat jaring dan ada juga yang sedang merapikan bagian luar kapal.

Duduk di Atas Pohon Tumbang
Puas menyaksikan aktivitas warga perkampungan nelayan, aku pun kembali mengayuh pedal sepedaku. Jalanan kali ini didominasi dengan pemandangan hutan bakau dan tambak - tambak ikan. Sesekali terlihat bangunan tinggi yang merupakan rumah penangkaran burung walet.

Pohon tubang yang berada di bibir pantai

Di ujung jalan, terlihat sebersit cahaya putih kebiru-biruan dengan hamparan yang luas. Yah, sudah sedikit terlihat laut yang akan dituju. Akupun kembali mengayuh sepedaku dengan kencang. Angin sepoi - sepoi, hamparan rumput yang hijau serta pohon cemara berjajar rapi ditepian pantai. Terlihat gubuk - gubuk sangat sepi. Maklum, hari ini bukan hari libur sehingga tak banyak wisatawan yang berkunjung.
Aku terus mengayuh sepedaku sembari berteriak sekuat - kuatnya merasakan kebahagian karena melihat keindahan pantai ini. Aku memilih di ujung pantai tersebut, karena di ujung tersebut terdapat muara sungai yang biasa menjadi jalur lalu - lintas nelayan setempat.
Pantai yang aku kunjungi saat ini bernama Pantai Serambi Deli. Pantai ini terletak di Desa Palu Sebaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Pantai ini merupaka pantai yang dikelola oleh kelompok masyarakat setempat. Namun jangan anggap remeh, pantai ini terlihat bersih dan tertata rapi. Pondok-pondoknya pun juga sebagian terbuat dari beton dan berkeramik, walaupun ada juga pondok yang terbuat dari tepas dan bambu. Jalanan di sekitar lokasi juga sudah di pasang paping blok.
Aku memakirkan sepedaku di pinggiran pantai. Deburan ombak, angin sepoi - sepoi serta suasana senja matahari memberikan suasana yang menyenangkan bagiku. Matahari pun masih terlihat jelas. Aku duduk diatas pohon yang tumbang dekat dengan bibir pantai.
Diatas pohon inilah, aku menyaksikan detik demi detik matahari mulai tenggelam. Cipratan air laut terkadang membasahi kakiku. Kapal - kapal nelayan juga lalu lalang melintas dimuara sungai. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Kaki yang pegal tadi tak kurasakan kembali. Yang ada hanya perasaan senang serta hati yang puas karena bisa menyaksikan sunset dengan perjuangan yang telah aku lakukan barusan.

Anak - anak nelayan yang hendak memasang bubu/ perangkap ikan

Aku duduk menikmati suasana tersebut sampai matahari benar - benar tenggelam dan warna langit berubah menjadi gelap. Dengan hati yang senang aku kembali kerumah dengan mengayuh sepedaku dengan santai. 

Senin, 13 Mei 2013

Mengejar sang fajar di Gunung Sibayak

Fajar di Gunung Sibayak yang diselimuti oleh kabut

Suasana wekend selalu penuh dengan keceriaan dan rencana perjalanan. Begitu lah yang aku alami setiap wekend tiba. Karena Indonesia merupakan surga bagi para pencinta traveller. Kali ini aku akan menceritakan perjalanan menikmati udara dingin pegunungan untuk menyaksikan sang fajar terbit.
Mobil bus meraung dijalanan yang mendaki, dari balik jendela sepasang mata sedang menatap jalanan berliku. Harapan dan angan - angan tergambar diatas kepala. Pendakian ke gunung ini bukan untuk yang pertama kalinya dilakukan. Dan yang pasti bukan hanya satu cerita yang dapat diceritakan.
Bayangan dan angan - angan tersebut muncul karena pertama kalinya perjalanan dilakukan melanggar estetika pendakian. Suatu hal yang tidak sewajarnya dilakukan hanya untuk mencari kesenangan belaka. Bukan hal yang bersifat fital ataupun mendesak.

Peregangan tubuh sebelum melakukan pendakian
13 orang muda - mudi yang kebanyakan pemula dalam kegiatan pendakian sedang melakukan pemanasan. Aktivitas mereka menarik perhatian para pengguna jalan karena dilakukan di pinggir jalan. Penatapan (Lokasi wisata untuk melihat pemandangan alam Sibolangit) menjadi titik awal start pendakian.
Terdapat tiga jalur untuk melakukan pendakian Gunung Sibayak. Jalur yang umum yaitu Jalur Pariwisata, jalur yang titik startnya dari Desa Jaranguda (Pajak Buah Berastagi), yang kedua Jalur Tangga, yang titik startnya dilakukan dari Desa Semangat Gunung atau pemandian alam air panas Sidebuk - debuk. Dan yang ketiga yaitu jalur 54 yaitu jalur yang dimulai dari titik start KM 54 Medan - Berastagi atau tepatnya di Desa Doulu.
Kami memilih jalur 54. Jalur ini merupakan jalur yang cukup menarik untuk melakukan pendakian. selain jalurnya yang melewati hutan alami, treknya juga tidak begitu terjal. Butuh waktu empat sampai lima jam untuk melakukan pendakian secara normal.
Pendakian dilakukan pukul 15.00 WIB, tim berjumlah 14 orang yang terdiri dari 7 laki-laki dan 7 perempuan. Peranku disini hanya sebagai pendamping untuk mengawasi sang penunjuk jalan.
Pendakian dilakukan cukup lambat, namun mereka terus berjalan secara konstan. Sebelum mencapai shelter (titik/tempat peristirahatan) satu, ada satu orang di diantara pendaki balik ke titik start dikarenakan hpnya tertinggal di post lalulintas tempat ia mengisi ulang hpnya.
Setibanya ia kembali dengan kondisi hp yang masih ada, kami melanjutkan perjalanan kembali. Satu persatu tim mulai merasa letih. Disinilah aku mulai menanamkan nikmatnya mendaki gunung. “Mari kita nimati suasana ini, pepohonan yang besar nan rimbun, kondisi yang tenang karena tidak ada klakson, udara sejuk dan beberapa kicauan burung serta mamalia yang saling sahut-sahutan. Suasana seperti ini tak akan didapatkan di perkotaan sana”.
“Bukankah ini kehendak kita untuk mendaki gunung, pemandangan dipuncak adalah bonus bagi orang yang beruntung. Sebab tak selamnya pemadangan dipuncak selalu indah. Bila kabut ataupun hujan datang, tak ada lagi yang bisa dinikmati. Jadi, lebih baik kita nikmati suasana perjalanan ini”. Ucapku kepada mereka. belum merasa yakin, aku kembali berusaha memotivasi mereka. “Lihat ekspresi dari raut wajah teman- teman kalian, lucu bukan. Kebersamaan, pershabatan, konflik, ataupun tindakan - tindakan konyol kalian ini akan menjadi pengalaman yang menarik untuk diceritakan nantinya”
Tak lama kemudian, semangat mereka pun datang kembali. Tak ada lagi raut wajah musam ataupun mengeluh. Senyuman dan tawa riang mulai terlihat diwajah mereka. sangking semangatnya pemandu jalan didepan yang juga masih belajar karena baru pertama kali naik ke gunung ini tidak menyadari bahwa ada persimpangan. Aku pun tak sadar karena terlalu asyik menikmati suasana senja.
Aku tersadar ketika rombongan depan berhenti. Aku berusaha melihat kedepan dan ternyata terdapat rimbunan pandan hutan yang lebat, daun daun berduri berserakan dibawah, batang - batangnya membentuk seperti jaring laba - laba yang sulit untuk dilalui. Aku berusaha untuk mencari jalan kedepan serta seputaran sekitar, namun tak kunjung ditemukan jalan utamanya. Aku berinisiatif untuk menerabasnya. Karena bagaimanapun, puncak selalu diatas dan karakter hutan pandan biasanya akan bertumpuk (merapat) satu tempat saja. Ketika sudah dilewati akan masuk ke tanaman perdu yang tidak terlalu tinggi.
Namun ternyata dugaanku salah, hutan pandan ini sangat luas. Dan beberapa kali dihadapkan dengan medan yang sangat curam. Kondisi saat itu sudah gelap, waktu menunjukan pukul 19.00 WIB. Maka aku menyuruh seluruh tim untuk istirahat dulu. Sembari istirahat aku berusaha untuk mengingat dimana letak kesalahan dan keputusan yang akan diambil.
Setelah istirahat dan makan cemilan, fikiran itu muncul. Aku memutuskan untuk kembali ke jalur sebelumnya dan memperhatikan simpang yang sempat diragukan. Namun ada inisiatif dari salah satu tim untuk melakukan doa. Maka doa pun dilakukan. Doa saya yang pimpin.
Selesai doa, perjalanan pun dilanjutkan. 15 menit berjalan tim menemukan persimpangan yang dimaksud. Jalan tersebut mengarah kesebelah kanan (saat posisi berjalan naik). Hal ini sangat mendukung karena ketika berjalan di hutan pandan sebelumnya aku berusaha memanjat ranting pohon untuk melihat puncak sibayak dan terlihat puncak tersebut berada disebelah kanan. Namun disaat mencari menerabas kekanan namun tak juga dapat menemukan jalan normal yang dimaksud.
Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi yang gelap dan licin. Walaupun jumlah alat penerangan yang tidak maksimal, tim tetap berusaha melanjutkan perjalanan. Tanaman perdu yang lebat dan tanah yang telah tergerus oleh air hujan menggambarkan seperti terowongan. Jalan menunduk sembari harus memanjat bebatuan acap kali dilakukan.
Ketinggian lambat laut semakin bertambah, kondisi medan juga semakin sulit. Namun bayangan hitam dari pegunungan bukit barisan terlihat dibelakang. Hal tersebut menambah semangat kami. Hingga perjalanan berhenti pada titik hamparan datar perdu dekat puncak sibayak.
Disinilah kami mendirikan tenda. Hal tersebut sudah aku perhitungkan sejak awal karena dititik ini kita dapat melihat gemerlap malam lampu kota berastagi, sidebuk - debuk dan lampu PLTU G. Sibayak. Tak hanya itu, dari tempat ini ketika fajar tiba dapat menyaksikan sunrise di sebelah timur. Tepat dimana tenda kami menghadap. Dan hal yang paling penting daerahnya datar serta aroma belerang jarang tercium dari lokasi ini.
Tenda bergegas dipasang mengingat udara semakin dingin. Kaum laki-laki yang ditugaskan untuk memasang camp dan kaum wanita ditugaskan untuk menyiapkan makan malam. Begitu camp telah didirikan dan makan malam telah siap dihidangkan, makan bersama pun dilakukan. Canda tawa dan saling ejek akan perjalanan yang telah dilewati barusan menghiasi makan malam saat itu. Disini letak keindahan yang dapat dirasakan. Kegiatan positif di akhir pekan yang penuh dengan kebersamaan.  
 Rasa letih akibat perjalanan yang telah dilalui mengakibatkan rasa kantuk mulai menerpa. Sebagian dari mereka langsung tidur didalam tenda, dan ada sebagian yang masih asyik menikmati malam di pegunungan sambil menyaksikan gemerlap lampu kota dengan pasangannya. Sedangkan saya sendiri asyik mencabuti duri rotan yang tertanam di kaki ketika menerabas hutan pandan tadi.

Aku dibantu oleh erwin, yang menjadi guide perjalanan tadi. Ia dengan tekun mencabuti satu persatu duri - duri kecil yang tertanam. Sakit terkadang ketika luka koyak pada kulit dibersihkan dengan alkohol. Tak jarang si Erwin sering mengejeku bahwa aku manja.
Pagi pun menjelma muncul, suara azan mulai berkumandang. Aku mencoba membuka pintu tenda dan melihat kondisi sekitar. Betapa menabjubkan, ribuan cahaya bintang bertabur di angkasa. Hal tersebut terjadi karena tidak ada pencemaran cahaya di pegunungan sehingga kita dapat menyaksikan berbagai cahaya bintang di langit.
Di sisi lain, para pendaki lain juga mulai terdengar suaranya. Sepertinya mereka naik dari jalur tangga dan juga jalur wisata. Mereka berteriak melihat keindahan yang juga kami lihat saat itu juga. Satu persatu dari tim juga mulai ikut keluar dan mulai menyaksikan keindahan tersebut. Tak mau kalah mereka juga ikut berteriak menyaksikan keindahan tersebut.
Dari sisi timur, cahaya merah jingga mulai tampak dibalik awan hitam ke biru - biruan. Kami berharap matahari segera muncul. Tak mau buang waktu, aku menyuruh tim untuk memasak sarapan pagi. Dan sebagian lainnya mulai sibuk mengambil foto.

Aku mengambil matras dan mengambil trangia untuk memasak air. Menikmati fajar pagi tak lengkap rasanya jika tak ada kopi ataupun teh panas. Selang beberapa menit kemudian ternyata awan tebal menyelimuti matahari tersebut, hanya cahaya putih yang tampak dari ufuk timur. Lokasi sekitar pun mulai diselimuti oleh kabut. Angin uga tak mau kalah, ia bertiup dengan kencang membawa udara dingin pagi hari dipegunungan.
Sedikit kecewa ketika tidak dapat menyaksikan matahari terbit secara sempurna, namun cahaya yang dipancarkannya ternyata dapat dirasakan walaupun diselimuti oleh kabut. Udara hangat begitu terasa ketika menyentuh kulit. Suasana pun lebih dramatis. Hal ini memberikan semangatku kembali. Dokumentasi dari berbagai sudut dan posisi terus kami lakukan sampai pada tingkat jenuh dan bosan.

Foto bersama di depan kawah G. Sibayak

Selesai itu, kami sarapan pagi dan bergegas untuk mempacking barang - barang kami.kemdian tim melanjutkan perjalanan menuju puncak yang tinggal beberapa ratus meter lagi. tim mengabadikan foto dan kemudian turun kebawah untuk menikmati panorama kawah gunung sibayak yang juga masih aktif itu. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk turun kebawah melalui jalur pariwisata yang akan menuju kota Berastagi.